Senin, 23 Oktober 2017

Jadilah tamu yang tahu diri

Tulisan Irene Radjiman yg layak anda baca...

Karena yang tidak tahu diri itu adalah sifatnya penjajah, perampok dan sejenisnya.

Saya Irene Radjiman, Irene adalah nama baptis saya, Radjiman adalah nama ayah saya.

Dari kecil hingga sebelum menikah saya di didik secara Katolik oleh ayah saya. Padahal ibu saya seorang muslimah. Saat setiap minggu, ayah saya selalu menyuruh saya untuk sekolah minggu, ibu saya tidak pernah komplain, karena kepemimpinan ada di tangan ayah saya. Saat rumah kami dipenuhi ornamen tanda salib, gambar Yesus, patung bunda Maria. Ibu saya juga ga pernah teriak :"Bhineka Tunggal Ika...!!! NKRI harga mati....!!!! Karena ibu saya tahu diri, di dalam rumah itu beliau adalah minoritas.

Saat pertama kali muncul seorang mualaf di keluarga kami yaitu kakak pertama saya, kakak saya juga tidak pernah meminta di dirikan mushala di rumah kami, padahal rumah kami sangat besar dan lebih dari cukup kalo hanya untuk membangun mushala. Ditambah secara finansial kakak saya yg mualaf sangat2 makmur dibanding yg lainnya, namun tidak dia gunakan hartanya untuk suatu tindakan yang "tidak tahu diri"

Saat saya akhirnya menyusul menjadi mualaf & tidak diperbolehkan melangsungkan pernikahan dirumah ayah, saya juga tidak komplain, karena saya "tahu diri".

Apakah yg dilakukan alm. Ibu saya, kakak saya & saya sendiri, karena kami takut pada ayah ? Bukaaaannnn, kami menurut & diam karena yg dilakukan ayah saya bukan hal yg prinsip.

Ayah saya hanya menyuruh saya sekolah minggu, bukan melarang ibu saya shalat. Ayah saya hanya tidak bersedia saya menikah dirumahnya, bukan tidak memperbolehkan saya memilih keyakinan saya sendiri.

Saat saya dilarang memakai hijab dirumah ayah saya, saya lepas hijab saya saat bersama ayah. Tapi saat saya keluar untuk menemui tamu, saya pakai kembali. Saat ayah saya marah, saya katakan : "Ayah, ini adalah pakaian saya sekarang, ayah tidak bisa larang, ini kewajiban saya memakainya." Ayah saya bisa mengerti.

Inilah Islam. Agama yang sangat sempurna & jelas mengatur, kapan harus diam untuk "tahu diri" dan kapan harus "tetap pada hak kita". Ini adalah "lakum dinukum waliyadin"

Tetangga kami 90% pribumi muslim, mereka selalu ada saat kami susah, mereka selalu bersedia membantu saat ayah saya punya hajat, mereka bersedia silaturahmi di hari natal walau bibir mereka tidak mengucapkan "Selamat natal" namun kedatangan mereka membuktikan bahwa mereka menganggap kami ada, dan kami juga bagian dari mereka.

Bahkan mushala ditempat kami sering dijadikan "meeting room" oleh warga, ayah saya juga hadir. Ayah juga tidak pernah komplain, ataupun teriak : "knpa perkumpulan warga harus di mushala, ini kan negara Pancasila yg ber-bhineka tunggal ika...!!!"

Itu artinya ayah saya juga "tahu diri" bahwa beliau adalah minoritas di lingkungannya. Walaupun beliau adalah tuan tanah, tidak menjadikan beliau pongah merasa berhak komplain sembarangan, membabi buta.

Sekarang kenapa harus jadi masalah kata-kata "Pribumi" dalam pidato pak Anies Baswedan ? Apa yang salah ? Bukankah pidato beliau bagus, menyemangati pribumi, sebagai pemilik syah negeri ini yang seharusnya menjadi tuan rumah di rumah mereka sendiri. Menjadi warga negara kelas 1, bukan warga negara kelas 3..!!! Apa yang salah ?

Bila anda merasa pribumi, bangkitlah...!!! Bantu bahu membahu bersama saudara-saudara pribumi. Bila anda merasa bukan pribumi, artinya anda adalah tamu "anda tidak berhak komplain apapun...!!! Ini bukan rumah anda...!!!"

Pribumi disini baik-baik. Belanda yang sudah menjajah ratusan tahun saja, tidak ada rasa dendam tuh, masih bebas touring di Nusantara ini.

Sejak kapan tamu bisa komplain, saat ada seorang ayah yang memberikan semangat kebangkitan bagi anak-anaknya ?

Sudahlah bertamu, merampok, tuan rumahnya dilaporkan, eehhh tuan rumahnya malah dikasih tausyiah lagi sama perampoknya. Anda waras ?

Jadilah tamu yang tahu diri

Sumber:https://plus.google.com/107858289223340655500/posts/jmANxnj3A5F

Tiga Musibah Setiap Hari

   
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

TIGA MUSIBAH SETIAP HARI

Pada dasarnya....
Ada tiga musibah setiap hari
Yang menimpa kita sebagai hambaNya.

Tetapi sayang...
Sebagian besar kita tidak menyadari,
Bahkan sebagian besar kita tidak bisa mengambil hikmahnya.

Musibah pertama......

Setiap hari jatah usia kita terus berkurang
Tetapi berkurangnya usia ini lepas dari perhatian.

Sementara itu....
Ketika harta yang berkurang
Perhatian kita sangatlah luar biasa,
Padahal harta yang hilang bisa diganti
Sementra umur yang hilang tidak akan ada gantinya.

Musibah ke dua.....

Setiap hari kita hidup dengan rizki dari Nya
Sementara kita lalai dan lalai....,
Bahwa setiap rizki yang ada
Kelak akan dihisab oleh Nya.

Apabila rizki itu halal
Kelak akan ditanya....
Sudahkah kita mensyukurinya ?.

Apabila rizki itu haram.....
Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala kelak mengadzab kita.

Musibah ke tiga.....

Disadari atau tidak,
Setiap hari kita melangkah mendekati akhirat,
Sebagaimana juga kita terus melangkah menjauhi dunia.

Tetapi perhatian kita terhadap akhirat yang kekal
Tidak sebesar perhatian kita terhadap dunia yang fana.

Sementara kita tidak tahu
Bagaimana akhir perjalanan kita kelak,
Apakah akan menjadi penghuni surga
Dengan segala keindahan dan kenikmatannya,
Ataukah menjadi penghuni neraka
Tempat segala adzab dan siksanya.

Sebanyak apapun harta dunia terkumpul,
Atau sebanyak apapun penghargaan dan jabatan teraih,
Semua tidak seindah kenikmatan yang menjadi impian
Dan dambaan Nabi Yusuf Alaihi Salaam :

توفني مسلماً وألحقني بالصالحين

"Yaa Allah aku memohon padaMu....
Agar engkau mewafatkanku dalam keadaan Islam Dan kumpulkanlah aku di surgaMu
Bersama hamba-hambaMu yang sholeh."
(QS. Yusuf : 101).

Sungguh !
Alangkah sedihnya hati ini....
Mendengar ungkapan Syeikh Muhammad Bin Sholeh Al Utsaimin :
"Apabila engkau merasa malas melakukan ketaatan, Maka waspadalah......
Bisa jadi Allah tidak suka kepada ibadahmu."

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَلَٰكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ

"Allah benci terhadap ibadah mereka (orang-orang munafik)....
Dengan sebab itu Allah palingkan mereka dari ibadah tersebut."
(QS. At Taubat : 46).

Yaa Allah.......
Jangan engkau jadikan dunia ini impian terbesar kami,
Dan jangan pula dunia ini menyita waktu kami...

Ya Allah.......
Jadikanlah sisa usia ini bermanfaat dan Husnul Khotimah.
Limpahkanlah rizki yang barokah, halalan dan toyyiban.

Ya Allah.......
Jangan jadikan neraka sebagai akhir dari perjalanan kami,
Dan jadikan surgaMu sebagai rumah peristirahatan terakhir kami.....Aamiin.......        

Kenapa Bergeser dari Tempat Shalat

Pertanyaan:
Assalaamu’alaikum Ustadz.

Apakah shalat sunah disyariatkan berpindah-pindah (bergeser ed.) tempat?
Dari: David

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Apakah dianjurkan untuk berpindah tempat ketika hendak shalat sunah?

Beberapa ulama mengatakan, dianjurkan untuk berpindah tempat bagi orang yang hendak shalat sunah setelah shalat wajib. Baik dia imam maupun makmum. Ini merupakan keterangan dari Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu Said dan salah satu riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.
Diantara dalil yang menunjukkan anjuran ini adalah:

Pertama, Allah berfirman tentang Firaun dan kaumnya yang dibinasakan,

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhan: 29)

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi yang dulu pernah dijadikan sebagai tempat ibadah, menangisinya. Langit yang dulu dilalui untuk naiknya amal yang dia lakukan, juga menangisinya. Semantara kaumnya Firaun, karena mereka tidak memiliki amal saleh, dan tidak ada amalnya yang naik ke langit, bumi dan langit tidak menangisinya karena merasa kehilangan darinya. (Tafsir Ibn Katsir, 7:254).

Allah juga berfirman,
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4)

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa bumi akan menjadi saksi untuk setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Perbuatan yang baik maupun yang buruk. Makna ini sebagai mana yang diisyaratkan oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar. Beliau menyatakan:
Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Bukhari dan al-Baghawi. Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, sebagaimana Allah berfirman
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”

Maksudnya adalah mengabarkan semua amalan yang dilakukan di atas bumi. (Nailul Authar, 3:235).

Kedua, hadis dari Nafi bin Jubair, bahwa beliau pernah shalat jumat bersama Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Setelah salam, Nafi bin Jubair langsung melaksanakan shalat sunah. Setelah selesai shalat, Muawiyah mengingatkan:
“Jangan kau ulangi perbuatan tadi. Jika kamu selesai shalat Jumat, jangan disambung dengan shalat yang lainnya, sampai berbicara atau keluar masjid. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kan hal itu. Beliau bersabda:

“Jangan kalian sambung shalat wajib dengan shalat sunah, sampai kalian bicara atau keluar.” (HR. Muslim 883, Abu Daud 1129).

Termasuk cakupan makna bicara dalam hadis ini adalah berdzikir setelah  shalat. Hadis ini menunjukkan, hikmah seseorang berpindah tempat ketika hendak melakukan shalat sunah setelah shalat wajib adalah agar tidak termasuk menyambung shalat wajib dengan shalat sunah.

Ketiga, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apakah kalian kesulitan untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”. (HR. Abu Daud 1006, Ibn Majah 1427, Ibn Abi Syaibah 6011, dan dishahihkan al-Albani).
Hal ini juga dikuatkan dengan keterangan sahabat, dari Atha’ bahwa Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu said, dan Ibnu Umar mengatakan:
“Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 6012).

An-Nawawi mengatakan
“Ulama madzhab kami mengatakan, jika seseorang tidak langsung pulang ke rumahnya setelah  shalat wajib, dan ingin shalat sunah di masjid maka dianjurkan untuk bergeser sedikit dari tempat shalatnya, agar memperbanyak tempat sujudnya. Demikian alasan yang disampaikan Al-Baghawi dan yang lainnya. Jika dia tidak berpindah dari tempanya maka hendaknya antara shalat wajib dan shalat sunah dia pisah dengan pembicaraan.” (al-Majmu’, 3:491).

Allahu a’lam

Referensi: saaid.net/Warathah/Alkharashy/mm/37

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/14936-bergeser-dari-tempat-shalat-wajib-untuk-shalat-sunah.html

Pidato Anies Baswedan, Luhut Binsar Panjaitan dan Nasib Reklamasi

Oleh :  Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle) – ( Selasa, 17 Okt 2017 – 19:43:42 WIB ) di Rubrik TSKita

Ratusan juta rakyat Indonesia sudah mendengar pidato 5 halaman padat dari Anies Baswedan, gubernur DKI baru. Dalam pidato singkat padat itu termuat visi yang kuat dari Anies untuk membangun Jakarta dengan berbasis (1) untuk Pribumi, (2) memuja Rahmat Allah, (3) berkeadilan sosial, (4) gotong royong, (5) sosialisme atau untuk semua, bukan untuk segelintir orang kaya saja, (6) berkebudayaan dan (7) rakyat sejahtera dan bahagia, (8) pemimpin Jakarta hadir dan memihak rakyat dalam pembangunan

Pidato Anies ini telah menempatkannya “beyond” Jakarta. Sebab, selain tidak bergaya “power point”, Anies telah memasukkan visi kebangsaan, kedaulatan dan sekaligus keadilan yang menembus batas ibukota. Sebuah visi yang hilang selama rezim Jokowi berkuasa.

“Perang Reklamasi”

Tantangan terbesar Anies mewujudkan visinya melawan kapitalis dan mengutamakan nasib Pribumi akan terlihat dalam soal Reklamasi teluk Jakarta.

Luhut Binsar Panjaitan (LBP) terkesan cepat dan ligat mamacu pencabutan moratorium Reklamasi sebelum Anies Baswedan berkuasa di Jakarta. LBP sebagai pendukung Ahok pada pilgub lalu, tentu takut tidak mampu bekerja sama dengan Anies. LBP menggertak bahwa Reklamasi akan jalan terus dan Pemda DKI harus ikut kemauan pemerintah pusat.

Pernyataan LBP ini kontan membuat rakyat bingung, serta menimbukan polemik, sebab moratorium Reklamasi ini tadinya justru dilakukan oleh kementerian maritim sendiri, bulan Mei tahun lalu, ketika menterinya seorang idealis, Dr. Rizal Ramli.

Rizal Ramli menghentikan Reklamasi karena dianggap projek ini sudah berjalan jauh tanpa ijin ijin dan studi2 yang menyangkut kepentingan nasional, baik dari sisi lingkungan hidup, kepentingan nelayan, dan target pasar properti yang akan menghadirkan jutaan penduduk baru di Jakarta.

Sejalan dengan Rizal Ramli, rakyat Jakarta sebagai “stakeholder” kota, telah menyatakan keberpihakannya atas penolakan reklamasi, dengan memilih gubernur baru yang anti reklamasi. Selain masalah teknokrasi dan yang menyangkut lingkungan hidup, serta nasib nelayan, yang digugat Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta (KSTJ), sebagian tokoh kebangsaan, seperti Sri Bintang Pamungkas (SBP), mempersoalkan rencana jutaan imigran asal RRC akan menduduki wilayah reklamasi tersebut. Ketakutan SBP bersumber dari iklan berbahasa China Mandarin pada marketing property reklamasi dan rendahnya daya beli masyarakat Indonesia saat ini.

Meskipun 3 pulau (G, C dan D) sudah dicabut moratorium nya oleh SK Menko Maritim, dan sertifikat pulau G sudah diserahkan Jokowi kepada Pemda beberapa waktu lalu, tetap saja gugatan rakyat menggema. Antara lain tuduhan LSM anti reklamasi yang menyatakan bahwa konsultasi publik yang dilakukan pemerintah dilakukan sembunyi-sembunyi tanpa melibatkan mereka. Sedangkan soal sertifikat pulau, digugat LSM Pakta, bahwa ijin 5000 Ha Pulau G di luar wewenang BPN setingkat kotamadya.

Namun, kembali ke pertanyaan inti soal reklamasi adalah sebagai berikut: (1) untuk apa dan siapa reklamasi itu dilakukan, (2) apakah rekalamsi itu wewenang Pemda atau Menko Perekonomian.

Anies Sandi dan Reklamasi

Sikap Anies dalam reklamasi sudah jelas diungkapkan nya saat kampanye lalu. Anies mengejek Ahok pada bulan Maret 2017 bahwa Ahok mengizinkan dan menjalankan reklamasi yang melanggar aturan. Bahkan ketika Ahok mengatakan soal Reklamasi ini adalah sejak orde baru, Anies menyerang Ahok yang berwatak Orba tanpa mau berubah. Anies menggaris bawahi bahwa orde saat ini justru harus memberi perubahan korektif dari orde baru.
Selain melanggarnya, terkait ini, Anies memberi kritikan bahwa Reklamasi itu hanya menguntungkan pengembang besar dan meminggirkan nasib nelayan.

Sikap Anies ini berwatak ideologis, karena mengutamakan pertanyaan “untuk apa dan untuk siapa?” Reklamasi itu. Sebaliknya, LBP tidak pernah membicarakan untuk siapa dan siapa diuntungkan dari bisnis ribuan triliun yang dirancang dilahan negara tersebut?

Dari sini kita melihat bahwa selama sikap Anies Sandi konsisten pada penolakan Reklamasi vs sikap Jokowi dan LBP yang pro reklamasi, maka perang tanding soal Reklamasi ini akan terus menerus memanaskan ibukota.

Untuk aspek legal, Anies dapat melandaskan kekuatannya pada preseden bahwa semasa Ahok gubernur, sikap Jokowi dan LBP mengerahkan sepenuhnya urusan SK SK ijin reklamasi kepada Ahok. Kenapa sebaliknya saat ini terkesan urusannya diambil pemerintah pusat? Bukankah dalam era reformasi dan otonomi daerah, kekuasaan pemerintahan pusat hanya pada 5 hal penting, yakni agama, kehakiman, pertahanan dan keamanan, Keuangan dan Luar negeri saja? Untuk apa pemerintah pusat mencampuri urusan pembangunan kota Jakarta terlalu jauh di era otonomi?

Untuk aspek ideologi, Anies sudah pasti mendapatkan dukungan rakyat Jakarta dalam soal reklamasi. Kekalahan telak Ahok yang didukung mati-matian oleh Jokowi dan LBP menunjukkan Jokowi dan LBP bukanlah “kompas kehidupan” rakyat di Jakarta. Moral dan ideologi Anies lebih kokoh saat ini.

Dengan modal dukungan rakyat dan visi Anies yang kuat untuk memajukan pribumi, rakyat kecil dan pembangunan yang berkeadilan, maka reklamasi untuk orang orang kaya dapat dihentikan secara total dan dirubah peruntukannya untuk kampung nelayan dan kaum miskin kota. Kewajiban pemerintah hanya memikirkan memberi uang pengganti seharga penimbunan tanah (at cost) saja, lalu tanah negara itu kembali jadi milik negara untuk kepentingan landreform. Tanah untuk Rakyat.(*)

Editor : Redaktur | teropongsenayan.com

(nahimunkar.org)

Kisah Inspiratif :SEBENARNYA ALLAH ITU TIDAK ADA (Kata si tukang cukur)

Di sebuah senja di sudut kota,ada seorang lelaki datang ke sebuah baber shop langgananya untuk mencukur rambutnya yang sudah mulai panjang dan tidak beraturan.
.
Lalu tanpa basa- basi lagi si tukang cukur mempersilahkan dan mulailah dia dengan tugas nya mencukur rambut si lelanggan tadi.Dengan tangan yang lincah dan cekatan dia memotong rambut pelangganya,sesekali dia sambil mengajak ngobrol pelangganya,semenit dua menit di lewati obrolan itu masih datar-datar saja,sampai tiba-tiba tukang cukur itu bilang pada pelangganya:
.
"Di pikir-pikir allah itu tidak ada ya"..
"kenapa kamu bisa bilang begitu"?? tanya pelanggan.
Bapak coba lihat orang-orang di luar sana, di seberang di persimpangan jalan itu,kalau allah ada.
Kenapa allah membiarkan orang - orang yang hidup penuh derita seperti mereka?
.
Si pelanggan masih dengan sabar mendengarkan celotehan si tukang cukur sambil mencari jawaban yang tepat dan masuk akal untuk menjawab pertanyaan si tukang cukur itu.
Lalu si tukang cukur kembali berkata kepada pelanggan.
"Lihat Pak,Kenapa allah membiarkan orang-orang cacat seperti mereka bersusah payah mencari rizki di jalanan,bahkan sampai- sampai ada yang bunuh diri segala karena tak kuat menghadapi tekanan hidup??"
Katanya allah itu kan maha pengasih lagi penyayang??
"Di mana allah"?.
.
Saking serunya obrolan itu,tak terasa sudah beres si tukang cukur memotong rambut pelangganya.Lalu pelanggan tadi beranjak ingin keluar dari baber shop itu sambil mencari jawaban atas pertanyaan2 si tukang cukur tadi.Baru beberapa langkah di pintu keluar,dia tertegun melihat seorang lelaki di pinggir jalan dengan rambut panjang,gimbal dan acak2an.Sesaat dia terdiam, lalu kembali membalikan badan dan sembari bilang pada si tukang cukur.
"Sebenar tukang cukur itu tidak ada ya.."??
Maksud bapak apa.."?kata si tukang cukur.
Saya ada disini dan baru saja saya mencukur rambut bapak"..
Lalu pelanggan itu berkata.
Lihatlah anak muda di pinggir jalan itu,kenapa si tukang cukur membiarkan saja, ada orang rambutnya acak-acakan dan gimbal tak beraturan seperti itu.."??
"Di mana tukang cukur itu"?.
Lalu tukang cukur berkata.
Dia seperti itu karena dia tidak datang padaku,dan memnta cukur padaku Pak..".
.
Nah..jawabanya juga seperti itu atas pertanyaanmu tadi,Allah SWT sebenarnya tidak membiarkan orang-orang dalam kesusahanya,tapi mereka sendirilah yang tidak mau mendekat dan memohon kepada Allah atas rizki dan berkah untuk kehidupanya "..
Lalu tukang cukur terdiam dan manggut-manggut tanda dia memahami jawaban pelanggan tadi.
.
Sahabat fillah perindu syurgaNya,dari cerita singkat di atas kita bisa memetik hikmahnya,bahwa allah tidak akan merubah keadaan kita dan membiarkan kita dalam keadaan yang kita rasakan,jika kita sendiri tidak berusaha untuk merubah keadaan kita dan berusaha untuk mendekatkan diri memohon padaNya.
.
Allah Ta’ala berfirman :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﺃُﺟِﻴﺐُ

 ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ

ﺩَﻋَﺎﻥِ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺐُﻭﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ

 ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". (Al-Baqarah: 186)

Kata Mutiara

1. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
2. مَنْ سَارَ عَلَى الدَرْبِ وَصَلَ
3. مَن صَبَرَ ظَفِرَ
4. مَنْ قَلَ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
5. جَالِسْ أَهْلَ الصِدْقِ وَ الوَفَاءِ
6. مَوَدَّةُ الصَدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِيْقِ
7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَعَبِ
8. الصَبْرُ يُعِيْنُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ
9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
10. اطْلَبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَحْدِ
11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ
12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَهَبِ
13. العَقْلُ السَلِيْمُ فىِ الجِسْمِ السَلِيْمِ
14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فىِ الزَمَانِ كِتَابٌ
15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
16. خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى الخَيْرِ
17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَاسُ كَالبَهَائِمِ   
18. العِلْمُ فىِ الصِغَرِ كَالنَقْشِ عَلَى الحَجَرِ
19. لَنْ تَرْجِعَ الأَيَّامُ التِى مَضَتْ
20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا
21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
22. الإِتِّحَادُ أَسَاسُ النَجَاحِ
23. لَا تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْنًا
24. الشَرَفُ بِالأَدَبِ لَابِالنَسَبِ
25. سَلَامَةُ الإِنْسَانِ فِى حِفْظِ اللِّسَانِ
26. آدَبُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ
27. سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِى
28. آفَةُ العِلْمِ النِّسْيَانُ
29. إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ
30. لَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَىءٍ مَزِيَّةٌ
31. اَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ
32. فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ
33. مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ
34. مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا
35. عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ
36. مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
37. اِجْهَدْ وَلَا تَكْسَلْ وَلَا تَكُ غَافِلًا  # فَنَدَامَةُ العُقْبَى لِمَنْ يَتَكَاسَلُ
38. لَا تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلَى الغَدِ مَاتَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ
39. اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ
40. خَيْرُ النَّاسِ اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَاَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
41. فِى التَّأَنِّى السَّلَامَةُ وَفِى العَجَلَةِ النَّدَامَةُ
42. ثَمْرَةُ التَفْرِيْطِ النَدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَلاَمَةُ
43. الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ
44. فَجَزَاءُ سَيَّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
45. تَرْكُ الجَوَابِ عَلَى الجَاهِلَ جَوَابٌ
46. مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
47. إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الْكَاَةمُ
48. مَنْ طَلَبَ اَخًا بِلَا عَيْبٍ بَقِيَ بِلَا اَخٍ
49. قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
50. خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ
51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا
52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
53. إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلْ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلًا
55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِى قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلْ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
56. لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَاَامٍ جَوَابٌ
57. وَعَامِلِ النَّاسَ كَمَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوْكَ   
58. هَلَكَ اِمْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ
59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ
60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
61. لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الَجمَالَ جَمَالُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
62. لَا تَكُنْ رَطْبًا فَتُعْصَرَ وَلَا يَابِسًا فَتُكَسَّرَ
63. مَنْ اَعَانَكَ عَلَى الشَّرِّ ظَلَمَكَ
64. العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلًا
65. أَخِىْ لَنْ تَنَالُ العِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ  أُسْتَاذٍ وَ طُوْلُ زَمَانٍ
66. مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى
67. اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
68. النَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ
69. إِذَا كَثُرَ الـمَطْلُوْبُ قَلَّ الـمُسَاعِدُ
70. لَا خَيْرَ فِى لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَمًا
71. تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ
72. رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ
73. دَاوُوا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
74. الكَاَِمُ يَنْفُذُ مَا لَا تَنْفُذُهُ الإِبَرُ
75. لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَبًا
76. سِيْرَةُ الـمَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ
77. قِيْمَةُ الـمَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ
78. صَدِيْقُكَ مَنْ اَبْكَاكَ لَا مَنْ اَضْحَكَكَ
79. عَثْرَةُ القَدَمِ اَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ
80. خَيْرُ الكَاَُمِ مَا قَلَّ وَدَلَّ
81. كُلُّ شَيْءٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلَّا الاَدَبُ
82. أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
83. العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ يَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ
84. اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
85. الحَسُوْدُ لَا يَسُوْدُ
86. الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا

1. Siapa bersungguh-sungguh dia berhasil.
2. Siapa berjalan pada relnya akan sampai.
3. Siapa bersabar berhasil.
4. Siapa sedikit kejujurannya, sedikit temannya.
5. Bergaullah dengan orang jujur dan menepati janji.
6. Kasih sayang teman tampak pada waktu kesempitan.
7. Tak ada kenikmatan kecuali setelah susah payah.
8. Kesabaran membantu atas setiap pekerjaan.
9. Coba dan perhatikan, kau akan jadi tahu.
10. Tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat.
11. Telur hari ini lebih baik dari ayam  besok hari.
12. Waktu itu lebih berharga daripada emas.
13. Pikiran yang sehat terdapat pada badan yang sehat.
14. Sebaik-baik teman duduk sepanjang waktu adalah buku.
15. Siapa menanam dia akan memetik.
16. Sebaik-baik kawan adalah yang menunjukkanmu pada kebaikan.
17. Jika tak ada ilmu maka pasti manusia seperti binatang.
18. Pengetahuan pada waktu kecil seperti lukisan di atas batu.
19. Tak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
20. Belajarlah pada waktku kecil dan amalkan dia saat kau besar.
21. Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon tanpa buah.
22. Persatuan adalah dasar keberhasilan.
23. Jangan menghina orang miskin dan jadilah penolong baginya.
24. Kemuliaan itu dengan adab bukan karena keturunan.
25. Keselamatan manusia ada pada menjaga pembicaraannya.
26. Perilaku (baik) seseorang lebih baik dari emasnya.
27. Kejelekan perilaku itu menular.
28. Bencana pengetahuan adalah lupa.
29. Jika benar tekadnya maka akan jelas perjalanannya.
30. Jangan menghina orang yang lebih rendah darimu, karena setiap sesuatu memiliki kelebihan.
31. Perbaiki dirimu, maka akan baik kepadamu semua manusia.
32. Berpikirlah sebelum bertindak.
33. Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan dia akan bersiap-siap.
34. Siapa menggali lobang akan terposok ke dalamnya.
35. Musuh yang cerdas lebih baik dari kawan yang bodoh.
36. Siapa yang banyak kebaikannya maka banyak sahabatnya.
37. Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas dan jangan jadi lalai, karena penyesalan mendalam itu adalah milik mereka yang bermalas-malasan.
38. Jangan tunda pekerjaanmu hingga besok, apa yang dapat kau kerjakan hari ini.
39. Tinggalkannlah kejahatan itu, dia pasti meninggalkanmu.
40. Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi manusia.
41. Dalam kehati-hatian ada keselamatan dan dalam ketergesa-gesaan ada penyesalan.
42. Buah dari penyia-nyiaan adalah penyesalan dan buah dari keteguhan adalah keselamatan.
43. Kasih sayang pada yang lemah termasuk akhlak yang mulia.
44. Balasan dari kejelekan adalah kejelakan yang setimpal.
45. Meninggalkan jawaban untuk orang bodoh adalah jawabannya.
46. Barang siapa yang manis tutur katanya banyak sahabatnya.
47. Jika sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya.
48. Barang siapa yang mencari kawan tanpa aib maka dia tetap tidak memiliki kawan.
49. Katakanlah yang benar meskipun pahit.
50. Sebaik-baik hartamu adalah yang memberikan manfaat bagimu.
51. Sebaik-baik perkara adalah pertengahan.
52. Setiap tempat ada kata-katanya (yg cocok) dan setiap kata-kata ada tempatnya (yg cocok.
53. Jika kamu tidak malu maka berbuatlah sekehendakmu.
54. Bukannya aib bagi mereka yang miskin, tapi aib itu milik mereka yang pelit.
55. Bukannya yatim itu yang telah mati orang tuanya, tapi yatim itu adalah yang tidak memiliki ilmu dan sopan santun.
56. Setiap pekerjaan ada balasannya dan setiap perkataan ada jawabannya.
57. Dan perlakukanlah manusia sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
58. Hancurlah seseorang yang tidak mengetahui kemampuannya.
59. Otak dari dosa adalah kebohongan.
60. Siapa yang menzalimi akan terzalimi.
61. Bukannya keindahan itu dengan pakaian yang menghiasi kita tapi keindahan itu adalah keindahan ilmu dan adab.
62. Jangan kamu lemah nanti kamu diperas dan jangan keras nanti kamu dipatahkan.
63. Barang siapa yang membantumu melakukakan kejelekan, dia menzalimimu.
64. Tindakan, membuat yang sulit menjadi mudah.
65. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara, akan ku berikan perincian dengan jelas :  Kecerdasan, Harta Benda, Ketamakan, Mempergauli Ustadz Kesungguhan  Waktu yang panjang.
66. Barang siapa yang berhati-hati maka dia akan mendapatkan apa yang dia impikan.
67. Tuntutlah ilmu itu walaupun ke negeri Cina.
68. Kebersihan adalah bagian dari iman.
69. Jika perminataan terlalu banyak, sediki yang membantu.
70. Tak ada kebaikan pada kenikmatan yang diiringi penyesalan.
71. Mengatur pekerjaan akan menghemat setengah waktu.
72. Banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu.
73. Obatilah kemarahan itu dengan diam.
74. Perkataan itu menembus apa yang tak ditembus oleh jarum.
75. Tidak setiap yang berkilap itu adalah emas.
76. Tindak tanduk seseorang menunjukkan kepribadiannya.
77. Nilai seseorang sesuai dengan kebaikan yang dilakukannya.
78. Sahabatmu adalah yang membuatmu menangis bukan yang membuatmu tertawa.
79. Terpelesetnya kaki lebih aman dari terpelesetnya lidah.
80. Sebaik-baik kata adalah yang ringkas dan mengena.
81. Segala sesuatu jika kebanyakan akan murah kecuali sopan santun.
82. Awal kemarahan adalah kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.
83. Budak itu dipukul dengan tongkat sedangkan orang yang merdeka itu cukup dengan isyarat.
84. Perhatikan apa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan.
85. Pendengki tak akan bahagia.
86. Semua pekerjaan harus dituntaskan

Boleh dishare
Semoga manfaat.

Ustadz Abdul Somad STOP!

Oleh: dr. Ferihana

Jangan antipati dulu sama beliau
Jangan benci dulu sama beliau

Saya tau
Diluar sana banyak doktrin untuk membenci beliau
Banyak yang menuduh sesat beliau hanya karena berbeda pendapat
Bahkan sampai berani mencela fisik beliau
Wal iyaadzu billah

Catatan: Saya juga terkadang tidak sepakat dengan pendapat beliau

Tapi, dengarlah penjelasan penting ini

Seringkali kita lihat
Ada sekelompok pengajian, apabila dia melihat orang lain melakukan amalan
Dengan congkak dia bertanya... tapi dengan tujuan membantah dan berdebat
Memang pernah dilakukan Rasul ? Lalu dengan enteng dia katakan bid'ah karena Rasul tak pernah melakukan
Dan sayangnya dia hanya membawakan dalil yang dia cocoki dari Ustadz atau kelompoknya saja tanpa mau lihat perkataan para ulama terdahulu semuanya yang begitu banyak

Padahal,

Sunnah itu ada 3, ucapan, perbuatan dan taqrir

Jadi, sekiranya tak dilakukan oleh Nabi namun ada dalilnya, ada ucapan Nabi dan ada persetujuan Nabi ataupun Nabi membiarkan
Maka jangan buru-buru menghukumi bida'ah dholalah

Wallahul muwaafiq

Catatan : video ini saya share sebagai pertaubatan diri saya yang selama belasan tahun lalu sempat belajar dan mondok di ma'had sebuah kelompok yang merasa paling ngikutin salaf, paling ahlussunah. Dahulu saya hanya mau mendengar kajian dari ustadz dari kelompok saya saja. Dan bermudah-mudahan menyesatkan dan membid'ahkan sesama muslim hanya karena perbedaan khilafiyah ijtihadiyah dalam masalah fiqhi

Alhamdulillah, Allah Karuniai saya kesempatan bertaubat dan membuka mata dan hati kepada sesama muslim dan para asatidz seperti beliau Al Ustadz Abdul Somad hafidzohullah

Mari kita menghargai perbedaan pendapat selama itu ada dalilnya, ada ulama yang berdiri diatasnya
Jangan kita mudah menyesatkan pendapat saudara kita hanya karena berbeda dengan guru dan kelompok kita

Sungguh Islam tidak akan dirusak dari luar, tapi dirusak dari dalam
Dengan apa ? Tafarruq bainahum, syaithan memecah belah diantara kita dan itu tampak jelas dizaman sekarang
Kita berpecah belah hanya karena perkara perbedaan pendapat... khilafiyah ijtihadiyah.

Wallahua'lam

Ummu Sulaym @dr.ferihana
Mudarrisah di Madrosah Uwais Al Qarni